Breaking

logo

Tuesday, January 6, 2015

Sembuh Dari Kanker Leher Rahim Stadium III Setelah Bersedekah

Sembuh Dari Kanker Leher Rahim Stadium III Setelah Bersedekah

ilustrasi © nafedz.com
Informasi yang diterima dari sang dokter kepada sang suami terkait kondisi istrinya itu bagai petir nan bergemuruh disertai kilat yang mengagetkan. Jika mampu, menolak atau kembali ke masa lalu agar bisa mencegah adalah pilihan yang pasti diambil. Namun, informasi itu bagai vonis hakim atas kesalahan ’terdakwa’ yang tinggal dieksekusi.

Lantaran tak menerima informasi yang disampaikan oleh dokter itu, sang suami pun berupaya memeriksakan istrinya kepada dua dokter yang lain. Berharap diagnosis dokter pertama salah, ternyata dua dokter yang didatangi belakangan menyampaikan informasi serupa. Sang istri positif mengidap kanker leher rahim (Ca Cervix) stadium III.

Lepas berkonsultasi, jika hendak dilakuan tindakan penyembuhan berupa terapi kimia dan sebagainya, sang dokter menyebut angka delapan puluh juta rupiah. Meski terbilang kaya, rupaya sang suami berpkir lain. Baginya bukan soal angkanya, tetapi melihat kemungkinan yang tidak diinginkan. Apalagi, jika pun delapan puluh juta tunai dibayarkan untuk tindakan, tak ada satu pun dokter ataupun rumah sakit yang menjamin kesembuhan bagi istrinya itu.

Maka, sang suami menempuh jalan yang tak biasa. Ia berniat mengumpulkan uang sejumlah itu, namun untuk disedekahkan kepada yang berhak menerimanya. Senilai delapan puluh juta itu dibagikan kepada panti asuhan, fakir miskin, janda, dan lainnya.

Selain itu sang suami memberikan obat-obatan herbal kepada istrinya, secara rutin sesuai rekomendasi tabib. Berbilang waktu kemudian, sang suami berniat memeriksakan istrinya. Keduanya mendatangi dokter untuk memastikan kondisi penyakit yang divoniskan beberapa bulan lalu.

Hampir tak percaya, pasangan suami istri itu hanya bisa memuji nama Allah Ta’ala. Berdasarkan pemeriksaan dokter, sama sekali tak dijumpai jejak kanker leher rahim yang divoniskan kepada sang istri. Bersih. Istrinya sehat.

Allah Ta’ala yang menciptakan sakit, Dia pula yang berikan obatnya. Dia Mahakuasa untuk menyembuhkan siapa yang dikehendaki-Nya. Hanya dengan sekali “Kun”, maka terjadilah apa yang Dia Kehendaki.

Dalam kaca mata keimanan, fenomena ini bisa dijelaskan dengan Kemahakuasaan Allah Ta’ala. Dia memberikan sesuatu sesuai sunnah-Nya. Kesembuhan yang Dia berikan dalam kisah nyata di atas sudah melalui usaha panjang dari hamba-Nya dalam hitungan bulan dengan pengorbanan harta, tenaga dan sumber daya yang tak sedikit.

Sedekah yang dipilih oleh sang suami adalah kesadaran penuh bahwa Allah Ta’ala Mahakuasa. Ia tidak apatis sebab masih menempuh jalan herbal bagi kesembuhan sang istri sebagai sebentuk ikhtiar manusiawi. Hasilnya, Allah Ta’ala berikan kesembuhan dengan bonus: sang istri hamil. Masya Allah…

Di dalam al-Qur’an, apa yang dilakukan oleh pasangan suami istri ini telah digaransi dalam bab taqwa. Siapa yang bertaqwa kepada Allah Ta’ala, maka Dia akan memberikan jalan keluar dari arah yang tidak diduga-duga.

Patut dicatat, barangkali fenomena ini tak lantas berlaku bagi semua orang. Sebab perbedaan tingkat iman, taqwa dan kemampuan ekonomi, hendaknya tidak menyamaratakan kasus. Karena dikhawatirkan seorang hamba akan ‘menyalahkan’ Allah Ta’ala tatkala melakukan hal serupa, tapi hasilnya berbeda. [Pirman]

*Diceritakan ulang secara bebas dari buku “Muslim Klakson”.

LEDMA Al-Farabi: Bersama Meraih Kemuliaan