Breaking

logo

Tuesday, January 6, 2015

Hindari Memberi Nama 'Imron' Untuk Anak Lelaki, Ini Alasannya

Hindari Memberi Nama 'Imron' Untuk Anak Lelaki, Ini Alasannya

@ilustrasi
Nama adalah doa. Maka, memberi nama harus bermakna kebaikan, berharap yang menyandangnya mendapat limpahan berkah sebagaimana makna namanya, bahkan lebih baik dari makna nama itu.

Memberi nama bukan persoalan remeh. Rasulullah Saw juga memerintahkan umatnya untuk memberi nama yang baik kepada anak-anak. Dimana hal itu menjadi salah satu bentuk kebaikan orang tua kepada anaknya. Tak jarang, beliau mengganti nama seseorang jika memang maknanya tidak baik, bahkan buruk.

Selain faktor ini, ada faktor lain yang perlu diperhatikan. Dialog Imajiner kali ini, semoga bisa membuat Sahabat LEDMA Al-Farabi terisnpirasi dan tersenyum.

Tersebutlah seorang Kiyai kharismatik di sebuah desa. Beliau memiliki putri semata wayang yang memiliki kualitas langkap, sempurna. Selain anak tunggal kiyai, calon pewaris pesantren bapaknya, shalehah, berwawasan luas, dan cantik fisik serta hatinya, anak kiyai ini diminati banyak orang, termasuk para santri, pemuda kampung maupun orang-orang terhormat dari kampung sebelah.

Hari itu, datanglah tiga orang pemuda ke kediaman Pak Kiyai. Maksud mereka adalah bersilaturahim, mengunjungi orang shaleh dan melamar putri semata wayang Pak Kiyai. Mereka datang bersamaan, dalam satu ruangan dan menyampaikan maksud yang sama.

Pemuda pertama berkata kepada Pak Kiyai, “Pak Kiyai, saya hendak melamar putri Pak Kiyai,” ujarnya lugas.

Sang Kiyai bertanya, “Siapa namamu anak muda?”

“Anas,” jawab pemuda pertama, singkat.

“Kalau begitu,” lanjut Pak Kiyai, “bacalah surah an-Naas untukku.” Pemuda pertama pun membaca surah an-Naas dengan lancar, Kiyai mendengarkan dengan saksama.

Setelah itu, tibalah giliran bagi pemuda kedua. Saat Kiyai bertanya, “Siapa namamu, Nak?” Dengan tegas sang pemuda menjawab, “Thariq, Pak Kiyai.”

Lantas, Sang Kiyai pun memberikan instruksi serupa dengan yang disampaikan kepada pemuda pertama, “Tolong,” pinta Pak Kiyai, “bacakan surah ath-Thariq, surah ke delapan puluh enam dalam al-Qur’an.”

Pemuda kedua pun membaca surah ath-Thariq seperti permintaan Pak Kiyai.

Saat pemuda kedua membaca surah ath-Thariq, seraya memperhatikan pola yang dilakukan Pak Kiyai dalam bertanya kepada dua orang pemuda pelamar putrinya, sang pemuda ketiga mengerutkan dahi, keringat dinginnya mengalir, agak deras.

Hingga tibalah giliran pemuda ketiga. Ia maju dengan sedikit menunduk.

Nah, sebelum Pak Kiyai bertanya siapa namanya, pemuda ketiga ini langsung berkata, “Pak Kiyai, nama saya ‘Imran. Tapi,” henti sang pemuda sejenak, “saya biasa dipanggil Qulhu.”

Rupanya, itulah strategi yang dipilih sang pemuda ketiga supaya tidak diperintah membaca surah Ali ‘Imran yang sesuai dengan namanya, ‘Imran. Sebab, selain ayatnya panjang dan banyak, si ‘Imran juga tidak menghafal surah ketiga dalam al-Qur’an tersebut.

Pak Kiyai dan dua pemuda pertama hanya tersenyum. Setelahnya mereka diizinkan pulang. Kira-kira, adakah dari ketiga pemuda itu yang diterima lamarannya? :D Mungkinkah yang diterima lamarannya adalah pemuda ketiga? Wallahu A’lam. [Pirman]

Sumber: kisahikmah.com

LEDMA Al-Farabi: Bersama Meraih Kemuliaan