Breaking

logo

Thursday, June 26, 2014

Guru Profesional yang Ideal

Guru Profesional yang Ideal



Oleh : Romadhon AS*
E-mail : mr.dont@rocketmail.com

Memasuki tahun ajaran baru 2014/2015 sudah didepan mata, sekolah mulai sibuk menyiapkan seperangkat yang berkenaan dengan tahun ajaran baru ini. Mulai seragam hingga sumber daya manusianya yang terus didongkrak guna memenuhi tuntutan implementasi kurikulum 2013. Pembekalan Implementasi kurikulum 2013 tahun ini juga terus digulirkan mulai dari pelatihan guru inti hingga guru sasaran diasah guna menyiapkan guru yang professional sebagimana yang menjadi harapan pemerintah (lihat permendikbud no.81A tahun 2013).
Perubahan kurikulum terus dikembangkan selama zaman ini terus bergulir. Perubahan zaman juga turut andil dalam perkembangan dunia pendidikan. Kurikulum yang menjadi ruh pendidikan tidak bisa berdiri sendiri. Sebagus apapun model kurikulum yang dikembangkan jika pelaku dilapangan tidak siap untuk menjemput perubahan, maka sejatinya hanya sampai pada tataran konseptual saja. Disinilah esensitas perubahan kurikulum adalah ada pada guru. Jika pelaku utama kurikulum ini (guru) tidak disiapkan sejak awal, pendidikan pun akan terus menjadi “quo vadis pendidikan Indonesia?”.
Bukan suatu keniscayaan perubahan kurikulum selalu terkesan ganti menteri ganti pula kurikulumnya. Sebenarnya hal ini menjawab tantangan era abad 21 yang semakin nampak persaingan global apa lagi Indonesia di tahun 2020 mendapatkan bonus demografi, artinya dalam era bonus demografi akan terjadi titik balik di mana orang yang berusia produktif menanggung orang yang tidak produktif yang jumlahnya semakin mengecil. Diperkirakan, era bonus demografi akan terjadi bersamaan ketika ekonomi Indonesia tumbuh menjadi kekuatan ekonomi dunia. Hal ini lah yang membuat salah satunya untuk menyiapkan generasi emas sebagai wujud untuk menyongsong pasar bebas, maka generasi itu perlu disiapkan dengan pendidikan berkualitas.
Pendidikan berkualitas bukan yang memasang tarif diluar kemampuan, tentu bukan sekedar meluluskan 100%, bukan sekedar dapat ijazah bahkan bukan sekedar sekolahnya yang terakreditasi sangat baik sekalipun. Pendidikan yang berkualitas dimana seluruh stakeholder terlibat aktif dalam peningkatan mutu pendidikan dan tenaga kependidikan yaitu sekolah melakukan open manajemen agar apa yang menjadi kebutuhan dilapangan (civil society) mampu diserap dengan baik sehingga sinergitas sekolah dengan masyarakat berjalan seirama dan berkesinambungan.
Mengutip tulisan Sumarna Surapranata (dalam majalah DIKBUD-edisi mei 2013) yang mengungkapakan bahwa “Pendidikan yang bermutu hanya dapat diraih jika memiliki guru yang bermutu  pula, yaitu guru profesional, bermartabat, dan sejahtera”. Guru dengan kriteria tersebut adalah guru yang tidak hanya mampu menyiapkan generasi saat ini tetapi juga mampu menyiapkan generasi yang memiliki kecerdasan sosial dan emosional yang tinggi, kemandirian dan daya saing menghadapi tantangan masa depan.
Sebenarnya masih menjadi misterius persoalan guru yang professional, apakah mereka (guru.red) yang telah lulus sertifikasi kemudian dinobatkan sebagai guru yang professional dengan dimilikinya sertifikat profesi? siapakah yang berhak memberikan penilaian tersebut? Lantas bagaimana guru yang sama sekali belum tersertifikasi atau bahkan yang mengalami diskriminatif karena persoalan idealisme guru tidak sesuai dengan kehendak sekolah atau dinas terkait? Inilah pertanyaan yang sangat fundamental yang perlu dijawab oleh pemangku kebijakan di Republik ini. Sering kali kita terjebak pada aturan yang sama sekali belum merepresentasikan masyarakat bawah, sehingga kita sering mengatakan “sam’an wa thoatan” alih-alih cari selamat untuk dirinya sendiri yang berimbas pada minimnya perhatian kepada peserta didik.
Kondisi seperti inilah yang kemudian masih menghantui dikalangan para pendidik. Jika hal ini dibiarkan begitu saja, rasanya sulit untuk mengharapkan guru yang professional. Padahal guru professional dan kreatif adalah agen perubahan bangsa. Jika melihat ciri-ciri guru professional menurut agus sampurno (lihat http://gurukreatif.wordpress.com) yakni (1). Selalu punya energi untuk siswanya. Disinalah seorang guru yang baik menaruh perhatian pada siswa di setiap percakapan atau diskusi dengan mereka. Guru yang baik juga punya kemampuam mendengar dengan seksama. (2). Punya tujuan jelas untuk Pelajaran. Disinilah seorang guru yang baik menetapkan tujuan yang jelas untuk setiap pelajaran dan bekerja untuk memenuhi tujuan tertentu dalam setiap kelas. (3). Punya keterampilan mendisiplinkan yang efektif. Disinilah seorang guru yang baik memiliki keterampilan disiplin yang efektif sehingga bisa  mempromosikan perubahan perilaku positif di dalam kelas. (4). Punya keterampilan manajemen kelas yang baik. Disinilah seorang guru yang baik memiliki keterampilan manajemen kelas yang baik dan dapat memastikan perilaku siswa yang baik, saat siswa belajar dan bekerja sama secara efektif, membiasakan menanamkan rasa hormat kepada seluruh komponen didalam kelas. (5). Bisa berkomunikasi dengan Baik Orang Tua. Disinilah seorang guru yang baik menjaga komunikasi terbuka dengan orang tua dan membuat mereka selalu update informasi tentang apa yang sedang terjadi di dalam kelas dalam hal kurikulum, disiplin, dan isu lainnya. Mereka membuat diri mereka selalu bersedia memenuhi  panggilan telepon, rapat, email, twitter dan sekarang BBM maupun facebook. (6). Punya harapan yang tinggi pada siswa. Disinilah seorang guru yang baik memiliki harapan yang tinggi dari siswa dan mendorong semua siswa dikelasnya untuk selalu bekerja dan mengerahkan potensi terbaik mereka. (7). Pengetahuan tentang Kurikulum. Disinilah seorang guru yang baik memiliki pengetahuan mendalam tentang kurikulum sekolah dan standar-standar lainnya. Mereka dengan sekuat tenaga  memastikan pengajaran mereka memenuhi standar-standar itu. (8). Pengetahuan tentang subyek yang diajarkan. Hal ini mungkin sudah jelas, tetapi kadang-kadang diabaikan. Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan yang luar biasa dan antusiasme untuk subyek yang mereka ajarkan. Mereka siap untuk menjawab pertanyaan dan menyimpan bahan menarik bagi para siswa, bahkan bekerja sama dengan bidang studi lain demi pembelajaran yang kolaboratif. (9). Selalu memberikan yang terbaik  untuk anak-anak dan proses Pengajaran. Disinilah seorang guru yang baik bergairah mengajar dan bekerja dengan anak-anak. Mereka gembira bisa mempengaruhi siswa dalam kehidupan mereka dan memahami dampak atau pengaruh yang mereka miliki dalam kehidupan siswanya, sekarang dan nanti ketika siswanya sudah beranjak dewasa. (10). Punya hubungan yang berkualitas dengan Siswa. Disinilah seorang guru yang baik mengembangkan hubungan yang kuat dan saling hormat menghormati dengan siswa dan membangun hubungan yang dapat dipercaya.

Selain yang dipaparkan diatas ada hal yang lebih urgen menurut penulis yakni guru yang idealis baik secara sikap mapun ideologi. Hal ini akan mendorong terbentuknya generasi yang tegas, kuat dan kreatif dimasa yang akan datang. Karena masa yang akan datang jangan ada generasi pembebek (ikut-ikutan) tanpa mengkaji dan mempertimbangkan efek yang terjadi baik perkembangan budaya, pikiran dan pergaulan. Sikap idealis dan ideologis itu merupakan perwujudan nilai-nilai falsafati pendidikan itu sendiri yakni memanusikan manusia agar manusia Indonesia menjadi manusia yang siap bersaing kapan saja dan dimanapun berada. Semoga bermanfaat!

LEDMA Al-Farabi: Bersama Meraih Kemuliaan