Breaking

logo

Tuesday, January 15, 2013

Abdurrahman bin Auf, Sahabat yang Dermawan

Abdurrahman bin Auf, Sahabat yang Dermawan

 Abdurrahman bin Auf adalah salah satu sahabat Rasul yang dijamin masuk surga. Ia masuk Islam setelah Abu Bakar as Shiddiq. Setelah 13 tahun dakwah di Makkah, Rasulullah SAW diperintahkan Allah untuk pindah ke Madinah. Abdurrahman menjadi salah satu Muslim ikut berhijrah.

Berbeda dengan dakwah di Makkah yang cukup sulit, di Madinah Nabi Muhammad SAW disambut sangat baik. Begitu juga dengan Abdurrahman bin Auf. Orang yang berpindah dari Makkah ke Madinah disebut kaum Muhajirin. Sementara, kaum yang menyambut orang-orang yang berhijrah ini disebut kaun Ansar. Nah, Abdurrahman bin Auf disambut sangat baik oleh seseorang yang bernama Sa’ad bin Rabi Al-Anshory.
“Hai teman, aku termasuk orang kaya. Kamu mau apa? Aku punya dua kebun, dua pembantu. Pilih saja mana yang kamu suka,” begitu kata Sa’ad bin Rabi Al-Anshory kepada Abdurrahman bin Auf.

Wah, rupa-rupanya Abdurrahman tak mau memanfaatkan kebaikan Sa’ad bin Rabi Al-Anshory. Abdurrahman menolak tawaran itu dengan halus. “Saya hanya minta tunjukkan di mana pasar,” kata Abdurrahman bin Auf.

Abdurrahman bin Auf merupakan orang yang pintar berjual beli. Kehidupannya berkecukupan. Ia lalu menikah. Begitu banyak berkah yang diberikan Allah kepada Abdurrahman bin Auf. Ia dijuluki ‘sahabar bertangan emas’. Ia menjadi sahabat yang paling kaya.

Ia juga orang yang sangat setia kepada Rasulullah SAW. Ketika ada panggilan perang, Abdurrahman bin Auf selalu datang. Mulai dari perang Badar, perang Uhud. Pengorbaannya sangat besar terutama untuk urusan harta.

“Ya Rasulullah, saya punya uang 4.000 dinar. Yang 2.000 saya sedekahkan di jalan Allah, sisanya untuk keluargaku,” kata Abdurrahman.

Kedermawanan Abdurrahman bin Auf sangat terasa ketika perang Tabuk. Perang Tabuk adalah perang yang sulit. Ketika menghadapi pasukan Romawi, pasukan Islam membutuhkan banyak dana. Nah, saat itu Abdurrahman bin Auf mengorbankan seluruh hartanya untuk perang. Ia sama sekali tidak meninggalkan untuk belanja keluarganya.

“Mereka saya tinggali sebanyak rezeki, kebaikan dan pahala yang dijanjikan Allah,” kata Abdurrahman. Rasul pun mendoakan keberkahan bagi keluarga Abdurrahman bin Auf.

Ketika perang Tabuk, Allah memberinya kemuliaan yang belum pernah dirasakan oleh siapapun. Saat tiba waktu shalat, Rasulullah SAW terlambat datang. Abdurrahman menggantikan sebagai imam.

Ketika shalat hampir selesai, Rasulullah SAW baru datang dan menjadi makmum Abdurrahman bin Auf. Sungguh, Abdurrahman adalah sahabat yang mulia.

LEDMA Al-Farabi: Bersama Meraih Kemuliaan